Sektor peternakan Thailand kini menghasilkan lebih dari 20 juta ton setara CO₂ setiap tahunnya hanya dari metana yang dihasilkan oleh fermentasi usus — angka yang hampir dua kali lipat dalam satu dekade. Kenaikan tersebut hampir seluruhnya disebabkan oleh satu spesies.
Berdasarkan data inventarisasi selama empat belas tahun, sapi potong telah mengalami peningkatan pangsa emisi metana dari sektor peternakan dari 64% pada tahun 2013 menjadi lebih dari 75% pada tahun 2025. Kerbau menempati urutan kedua sebagai penyumbang terbesar; sapi perah dan babi memiliki pangsa yang jauh lebih kecil dan secara umum tetap stabil.
Bentuk grafiknya penting: penurunan pada tahun 2013 memang nyata, dan sebagian besar tahun sejak 2017 menunjukkan tren kenaikan — didorong oleh perluasan populasi ternak dalam rangka program pengembangan peternakan Thailand. Kebijakan mitigasi yang tidak secara eksplisit menyebut sapi potong tidak akan memengaruhi kurva nasional.
Dari setiap ton metana yang dilepaskan ke atmosfer oleh sektor peternakan Thailand melalui proses bersendawa, tiga dari empat tonnya berasal dari sapi potong. Sebanyak 15,1 juta ton CO₂e pada tahun 2025 saja — dan total emisi metana enterik telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2013.
Hal yang sama juga terjadi dalam pengelolaan kotoran ternak: ternak sapi potong dan babi mendominasi, sementara total emisi telah meningkat dari sekitar 2,8 Mt CO₂e pada tahun 2019 menjadi sekitar 3,9 Mt pada tahun 2025.
Angka-angka total tersebut terlihat seperti itu karena faktor emisi per ekor sangat bervariasi. Seekor sapi perah yang sedang menyusui menghasilkan hampir 93 kg CH₄ per tahun; seekor kerbau betina yang sedang hamil, hampir sebanyak itu pula. Seekor babi menghasilkan 1,5 kg.
Perbedaan hingga 60 kali lipat itulah yang menjadi alasan mengapa ternak sapi dan kerbau di Thailand mendominasi populasi ternak, meskipun jumlah babi lebih banyak daripada sapi. Hal itu juga menjadi alasan mengapa langkah-langkah kebijakan dan pembiayaan yang efektif — seperti peningkatan kualitas ternak, penggunaan aditif pakan, reaktor anaerobik, dan penggantian jenis ternak — bersifat spesifik untuk masing-masing spesies.
Tiga hal dapat langsung disimpulkan dari data pada halaman-halaman ini: