Latar Belakang
Pasar karbon Indonesia masih dalam tahap awal pengembangan, namun terdapat antisipasi yang signifikan mengenai potensinya untuk memajukan tujuan iklim Indonesia. Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun dengan proyek-proyek karbon di sektor kehutanan (dan sektor-sektor lainnya), pemerintah Indonesia telah menyusun kebijakan dan peraturan yang bertujuan untuk membangun fondasi yang kuat untuk pasar karbon. Khususnya, pada bulan Agustus 2023, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkenalkan peraturan untuk perdagangan karbon melalui bursa karbon, yang kemudian diikuti dengan peluncuran IDXCarbon. Meskipun IDXCarbon masih dalam tahap awal dengan omset yang rendah, Indonesia bertekad untuk memajukan pasar karbon yang patuh untuk mencapai target nol-nol negara yang mengarah pada perdagangan yang lebih likuid di BEI.
Pertumbuhan yang diantisipasi ini memberikan kesempatan bagi para pemangku kepentingan dari sektor publik dan swasta untuk berkumpul bersama guna mendiskusikan dan membentuk masa depan pasar karbon Indonesia. Dialog yang mencakup berbagai keahlian dan perspektif - mulai dari kementerian pemerintah, pengembang proyek, pakar sektoral, akademisi, organisasi masyarakat sipil, lembaga pembangunan, pemodal, dan pakar internasional - dapat menghasilkan ide dan momentum untuk mempercepat pasar karbon di Indonesia.
Menyadari momen penting ini, Neyen melihat ini sebagai waktu yang ideal untuk memulai pengembangan kapasitas karena Indonesia terus mengembangkan lanskap pasar karbonnya. Bersama dengan mitra kami, Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA) dan Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI), inFUSE Accelerator secara resmi diluncurkan pada tanggal 12 Agustus 2024.
inFUSE Accelerator lepas landas










Rahmat Witoelar, Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia (2004-2009), dan Robert Satrya, Kepala Bidang Investasi, Pendanaan, dan Hubungan Investor di Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA). Keduanya menekankan perlunya memanfaatkan potensi pasar karbon Indonesia untuk berkontribusi secara efektif terhadap solusi iklim global. Mereka juga menekankan pentingnya sumber daya manusia, dan menyatakan bahwa lokakarya inFUSE sangat erat kaitannya dengan memastikan keberlanjutan upaya-upaya perubahan iklim.
Para peserta
inFUSE Accelerator gambaran umum
Jeremy Buhain dari Neyen Consulting memberikan gambaran umum tentang program inFUSE Accelerator dan mengadakan kuis singkat untuk mengetahui kesadaran terkini mengenai pasar karbon di antara para peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari separuh peserta cukup familiar dengan peraturan karbon di Indonesia, sementara 15 peserta kurang familiar dan memiliki kekhawatiran yang signifikan tentang kepercayaan mereka terhadap pasar karbon. Dalam hal kepercayaan terhadap Pasar Karbon Indonesia, 15 peserta menyatakan percaya diri terhadap pasar tersebut, sementara 17 peserta lainnya tidak terlalu percaya diri. Tantangan yang paling signifikan yang diidentifikasi adalah aturan partisipasi yang tidak jelas (34%) dan kurangnya insentif (29%). Di antara 21 pengembang proyek karbon yang hadir, 7 orang tidak begitu paham dengan langkah-langkah dan persyaratan untuk menghasilkan dan menjual kredit karbon, dan 1 orang peserta tidak memiliki pengetahuan tentang proses tersebut.
inFUSE Accelerator gambaran umum
dipresentasikan oleh Jeremy Buhain
Bengkel
Pemahaman bersama tentang pembuatan karbon
Johan Nylander, seorang konsultan utama di Neyen Consulting, membahas tren yang berkembang di Pasar Karbon dan perdagangan emisi di Asia Tenggara, dengan menyoroti manfaatnya, seperti mengurangi emisi dan menghasilkan pendapatan. Ia menjelaskan cara kerja perdagangan emisi, termasuk peran pemerintah dalam menetapkan batasan dan bagaimana perusahaan mengurangi emisi. Nylander juga membahas dampak dari kebijakan pemerintah di Pasar Karbon dan menekankan pentingnya mempertimbangkan berbagai kebijakan ketika menetapkan batas emisi. Ia berbagi pelajaran yang dapat dipetik dari studi kasus di Singapura, Afrika Selatan, dan Kolombia, dengan mencatat bahwa memprediksi tingkat harga di masa depan merupakan hal yang menantang. Tiga pertimbangan utama diidentifikasi: kebijakan yang tumpang tindih dapat mendistorsi dampak harga yang diharapkan, integrasi dengan kebijakan lain diperlukan, dan di Indonesia, perhatian khusus harus diberikan pada kebijakan energi terbarukan dan langkah-langkah transisi energi.
Pemahaman bersama tentang pasar karbon
dipresentasikan oleh Johan Nylander
Diskusi Panel
Tinjauan dan Prospek Pasar Karbon Indonesia dari Pemangku Kepentingan Utama
Diskusi kelompok panel dimoderatori oleh Ayu Pratiwi, seorang peneliti dari Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA). Pratiwi aktif dalam memberikan dialog tentang mekanisme Nilai Ekonomi Karbon dan perkembangan pasar di Indonesia.
Pasar karbon di Indonesia dan strategi untuk meningkatkan semangatnya
Jatna Supriana dari Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI) berbagi wawasannya mengenai upaya Indonesia dalam mengembangkan pasar perdagangan karbon untuk mengurangi emisi, dengan tonggak-tonggak penting dan peraturan yang sudah ada. Beliau menekankan perlunya sebuah platform yang berfungsi dengan baik dan metodologi baru, terutama di sektor energi, untuk mendukung tujuan pengurangan emisi. Beliau mencatat bahwa kegiatan pasar karbon di Indonesia sebagian besar terfokus pada kehutanan, dengan perhatian yang terbatas pada sektor energi. Supriana juga menyoroti pentingnya memperkuat teknologi dan meningkatkan efektivitas dan efisiensi transaksi untuk memastikan keberhasilan perdagangan karbon dan upaya pengurangan emisi di Indonesia.
Pasar karbon di Indonesia dan strategi untuk meningkatkan semangatnya
dipresentasikan oleh Prof. Jatna Supriatna
Pengenalan IDCTA & Gambaran Umum Pasar Karbon Indonesia
Riza Suarga, Ketua Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA), menyampaikan pandangan positifnya mengenai pasar karbon Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Indonesia sedang mengembangkan pasar karbonnya melalui peraturan presiden dan peraturan-peraturan, serta mengeksplorasi dan menciptakan metodologi dan standar-standar baru. Indonesia bertujuan untuk mengurangi emisi sebesar 26-41% pada tahun 2030 dan telah menerima 480 aplikasi untuk proyek-proyek karbon yang dapat menghasilkan 150-250 juta ton pengurangan emisi per tahun. Suarga menekankan pentingnya inovasi dan eksplorasi di pasar karbon, meskipun ia mengakui bahwa mungkin diperlukan waktu sekitar 20 tahun untuk mengembangkan dan menyempurnakan metode-metode ini. Ia mendorong semua pihak untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan-tujuan ini.
Pengenalan IDCTA & Gambaran Umum Pasar Karbon
dipresentasikan oleh Dr. Riza Suagra
Peluang dan tantangan untuk Proyek Karbon di Indonesia
Doddy Sukadri dari Universitas Indonesia dan Yani Witjaksono dari Yayasan Bina Usaha Lingkungan, menegaskan kembali pentingnya Pasar Karbon dalam mengatasi perubahan iklim, khususnya dalam konteks Kontribusi Nasional yang Diniatkan (NDC) Indonesia. Mereka menekankan kebutuhan mendesak untuk memahami krisis iklim dan peran Artikel 6 dalam memfasilitasi keterlibatan sektor keuangan. Mereka juga menekankan kurangnya keterlibatan sektor swasta, seperti yang telah dibahas sebelumnya, dan menyerukan diskusi lebih lanjut dan kolaborasi untuk mengatasi tantangan-tantangan ini dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada di Pasar Karbon. Diskusi ini juga menyinggung pentingnya dukungan kebijakan dan regulasi untuk mendorong partisipasi sektor swasta, memastikan implementasi yang efisien dan koordinasi di antara para pemangku kepentingan, serta menjamin solusi energi berkelanjutan yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab secara sosial. Mereka mencatat bahwa tantangan saat ini adalah kurangnya kemajuan dalam memanfaatkan sumber daya ini secara efektif.
Peluang dan Tantangan untuk Proyek Karbon di Indonesia
dipresentasikan oleh Bu Yani Witjaksono
Perekaman acara lengkap
Kami sangat senang dapat berbagi rekaman lengkap acara ini.
Acara yang akan datang
Untuk mengetahui tentang acara yang akan datang dan mendaftarkan minat Anda, lihat kalender acarainFUSE Accelerator .


